Ibu

01.06

      Diam tanpa sepatah kata. Dia seorang yang diam tapi ingin berkata. Itu dia ibuku, aku lahir ke dunia dari rahim seorang ibu yang tak bisa berbicara. Tanpa ayah dan tanpa saudara, hanya aku dan ibu.  Ketika aku baru masuk sekolah Dasar banyak anak yang tidak mau berteman dengan ku, mereka selalu mengolok-olok ku “Anak orang bisu, anak orang  cacat” kemudian mereka tertawa dan aku, aku hanya bisa menunduk serta menangis. Ibuku memang tak bisa bicara sejak aku lahir dan aku juga tak tahu , ibuku juga tak pernah mengeluh. Saat aku sedikit berkelakuan nakal dia hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Sampai ketika aku masuk dalam sekolah menengah atas masih saja banyak anak yang suka melihat ku dengan tatapan tidak suka. Tapi untungnya aku masih mempunyai seorang teman yang bisa dibilang baik.

      Kini tak hanya ibuku yang bekerja tapi juga aku, sehabis pulang sekolah aku akan pergi ke café seberang jalan .Bekerja sebagai seorang pelayan memang tak mudah, tapi aku harus berusaha selayaknya ibuku bekerja keras. Malam ini udara sangat tak bersahabat aku harus menggunakan jaket yang tebal dan syal untuk menghalau udara dingin. “Assalamualaikum”, ketika aku baru memasuki rumah. Kulihat ibuku sedang merajut dan seketika berhenti untuk membalas salamku dengan anggukan. Aku tersenyum sambil berkata, “Apa ibu sudah makan, ini aku membawa sedikit makanan untuk ibu”. Ibuku menjawab dengan bahasa tubuh sebagaimana mestinya. “Sudah ibu aku sudah makan, dan ini untuk mu”, kataku sambil membuka bungkusan itu. Lagi-lagi ibu berbicara dengan menggerak-gerakan tangannya. Kulihat ibu makan dengan lahapnya, tak terasa air mata ini menetes padahal aku juga tak tahu apa yang membuatnya jatuh. Tanpa sadar ibu telah memandangi diriku dan tangannya menghapus air mata ini. Aku membalas tatapan ibu dengan pelukan yah hanya pelukan. Ku merasa sangat menyayanginya aku tak ingin kehilangan dia.

      Krriiingg…kriingg bel istirahat berbunyi, seperti anak ayam dikeluarkan dari kandangnya semua murid berlarian. Ada yang ke kantin ke wc , tapi ada juga yang tak ikut berlari dia hanya berjalan lunglai menuju tempat duduk dibawah pohon dia itu aku. Memang setiap kali teman ku pergi kekantin aku hanya duduk disitu memandangi langit atau menunduk membaca buku. “Hayo lagi ngapain disini sendirian”, vira datang sambil mengagetkan ku. Itu memang kebiasaan vira selalu saja begitu “Udah yang ketiga kalinya ya vir kamu ngagetin aku hari ini. Lama-lama aku sakit jantung nih gara-gara kamu”, kataku tak memalingkan pandangan dari buku dihadapanku. “Yeee doanya jelek, kamu ngapain sih disini, gak ke kantin??” aku hanya menggeleng. “Kenapa??” Tanya vira tanpa henti. Sejenak aku memandangnya lalu “Malas ah dikantin rame, enak disini hening dan sejuk”. “hmmm” kata vira hanya bergumam. Vira memang satu-satunya anak yang masih mau berteman dengan ku, dia tidak sombong dan tidak membeda-bedakan kasta untuk berteman. Aku melanjutkan membaca, meskipun mata ini memandang tulisan yang terdapat dibuku itu tapi fikiranku tidak ,fikiranku melayang kemana-mana. Sampai bel berbunyi dan pelajaran dimulai tetap saja aku tak bisa fokus bagaimana aku bisa fokus kalau sebentar lagi ujian akhir sekolah akan dimulai, sedangkan uang sekolah aku belum membayar bahkan sudah menunggak beberapa bulan. Akhirnya bel berbunyi, masih dengan langkah gontai aku berjalan tak peduli dengan keributan disekitarku, tak peduli orang berjalan lalu lalang. Hanya itu yang kufikirkan cara mendapatkan uang untuk sekolahku. Dan hal itu kebawa ketempat kerja ku. Semua heran melihatku, biasanya aku yang paling semangat bekerja tapi hari ini lain.

      Esoknya kubangun seperti biasanya meskipun hari ini libur, membantu ibu menyiapkan dagangan. Ibu memang seorang penjual nasi didepan gang, setiap hari ia bekerja hingga sore. Tak banyak keuntungan yang didapat tapi itu cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kami. Apalagi setelah ayah ku tiada ibuku berperan ganda sebagai seorang ibu dan seorang ayah. Ibuku seorang pekerja keras, tak hanya sebagai pedagang nasi tapi juga seorang buruh cuci. Sepulang berjualan dia mengambil cucian para pelanggannya. Dan aku yang hanya seorang pelayan café sederhana di seberang sekolah gajian ku hanya cukup untuk membeli obatku dan sedikit biaya sekolah. Aku memang anak yang menyusahkan karena penyakit asma ini aku harus rutin minum obat kalau tidak pasti kambuh dan itu hanya akan menambah beban ibu saja. Pernah suatu ketika ibu mengalami kerugian dan upah ku dia pinjam untuk modal dagangan dan saat itu juga obatku habis tapi aku tak mengatakannya pada ibu “Tak apa ibu pakai saja uang ini, daripada ibu tidak berjualan lagi”, kataku kala itu  . Seperti biasa hanya gerakan tangan dan sedikit bibir yang bisa ibu lakukan “Iya ibu”, lanjutku. Ibu ku tersenyum sambil mengelus rambutku. Dan aku membalasnya dengan mencium keningnya. Tanpa sepengetahuan ibu asma ku kambuh , aku hanya diam sambil meringkuk di atas ranjang, sampai akhirnya ibu tahu. Dia hanya menangis sambil mengelus pipiku, aku seperti biasa tersenyum. Tak banyak memang yang bisa ku lakukan untuk ibu, tapi dia adalah pahlawanku.

      Pagi ini sebelum aku berangkat sekolah kuberanikan bertanya kepada ibu “Bu sebentar lagi aku akan ujian dan aku belum membayar uang sekolah. Apakah ibu sudah punya uang??”,kata ku sedikit berat. Ibuku menoleh sambil menggerak-gerakkan tangannya yang artinya “Maaf nak masih belum, tapi ibu pasti akan mengusahakan secepatnya”, aku hanya bisa tersenyum miris seraya berkata “Oh iya ibu tidak apa-apa, kalau begitu aku berangkat dulu yah bu. Assalamualaikum”. Kucium tangan ibu. Ibuku memandang kepergian ku , sambil meneteskan air mata ibuku bersiap-siap berjualan dan mengantarkan cucian-cucian. Berjalan dengan gontai dan tetesan air mata, rasanya tak sanggup bila aku harus pergi kesekolah. Kini arahku berbalik menuju danau, aku memang suka tempat itu sepi, hening dan sejuk. Disana aku duduk sambil menulis sesuatu dibuku ku, tempat ini memang mebuat ku tenang dikala aku seperti ini “Andai ayah masih hidup pasti tak seperti ini” gumamku. Ketika senja mulai turun aku baru beranjak, untuk pulang. Sebelum masuk kedalam rumah ku hapus air mata dan memasang tampang ceria seperti biasanya. “Assalammualaikum”, tapi tak ada jawab “Bu, ibu” masih tak ada jawaban. Kususuri seisi rumah ibu tetap tak ada, cucian masih menumpuk di sudut ruang. Dan ternyata ibu tengah tidur dikamarnya kudekati ranjangnya dan duduk disisi ranjang. Kulihat wajah ibu yang mulai menua dengan keriput-keriput yang mulai tampak, rambutnya pun mulai memutih. Oh ibuku kubelai rambutnya dan tak kuasa air mata ini menetes. Kugenggam tangan ibu yang terasa kasar ditangan, inilah tangan yang membesarkanku tangan yang dipenuhi banyak luka akibat bekerja yang memberiku kasih sayang. Tangan yang mengusap air mataku disaat aku menangis, yang menyuapiku ketika aku kecil. Aku baru sadar bahwa ibu selalu tersenyum dan tampak tegar. Mata ibu, mata itu yang menunjukkan semuanya mata itu tak pernah berbohong bahwa tersimpan ribuan derita didalamnya. Ibu menggeliat, tapi syukurlah dia tidak bangun segera saja kucium tangannya dan menarik selimut kebadannya. Untuk yang pertama perjuangan ibu begitu besar untuk ku. Dia tak pernah menunjukkan kesedihannya didepanku. Dan untuk pertama kalinya aku menyentuh tumpukan cucian disudut ruangan yang menumpuk kubasahi semua baju-baju kotor itu dan mulai mencucinya, aku juga sadar bahwa selama ini pekerjaan ibu lebih berat dariku. Dia harus mencuci bertumpuk-tumpuk baju hingga tangannya lecet disana-sini.  Tapi dia tak pernah sekalipun mengeluh, berbeda dengan ku terlalu banyak mengeluh dan menuntut. Oh ibu maafkan anak mu ini. Kembali ke cucian itu, sesekali aku menyeka peluh ini, tapi kali ini aku semangat sekali. Hingga tak terasa semua cucian itu selesai dengan waktu yang cukup singkat. Setelah kurasa pekerjaan itu beres aku mulai beranjak menutup mata untuk menatap hari esok.

      Pagi ini kurasakan kepalaku pening dan berat seperti tak ingin bangun dari tempat tidur. Dadaku juga terasa sesak lebih sesak seperti biasanya. Kuraba-raba laci dimana tempat aku menyimpan obat, dan kosong ternyata obat itu habis. Aku hanya bisa terbaring lemah lebih sakit dari kejadian sebelumnya. Ketika ibu masuk kedalam kamar dia terkejut melihatku seperti ini, ibu menangis dia bingung. Ibu berlari keluar bermaksud mencari bantuan, namun tak ada satu pun tetangga yang mau menolong. Selalu saja mereka bilang sibuk padahal hari masih pagi. Sambil berderai air mata ibu terus berlari , mencari kemana dia bisa mendapatkan pertolongan. Pikiran ibu yang sedang kacau atau mungkin orang itu entah siapa yang salah  tiba-tiba dari arah berlawan sebuah motor melaju dengan kencang dan menabrak tubuh ibu yang renta hingga terpental beberapa meter dari tempatnya berdiri. Dan pagi itu suasana dipenuhi derita yang berdarah.


      Kini aku hanya bisa meratap dan menyalahkan diri sendiri kenapa aku tak bisa menjaga apa yang berharga untuk ku. Aku belum siap hidup sendiri, aku belum siap menjalani hari-hari tanpa ibu. Disetiap aku menatap sudut rumah hanya bayangan ibu yang muncul kala dia tersenyum, tertawa, marah ataupun jengkel kepadaku sungguh aku tak sanggup hdup tanpa ibu. Saat itu ketika aku yang sedang meringkuk dalam kamar, tiba-tiba Vira datang dengan muka cemas cepat-cepat dia memapah tubuhku kedalam mobilnya dibawa kerumah sakit. Ketika beberapa jam kemudia aku sadar dan keadaanku mulai stabil. Dia mengatakan sesuatu yang sebenarnya tak ingin ku dengar “Ar jangan nangis yaa, ibumu ibumu….”, kata itu terpotong dan kulihat setetes air mata jatuh “Kenapa Vir ibuku kenapa???”, aku mulai menangkap sesuatu yang buruk. “Maaf Ar ibumu meninggal dia kecelakaan tadi pagi”,katanya tertunduk dan semakin derasa air matanya mengalir. Mungkin aku memang tak percaya , tapi gundukan tanah merah itu masih basah dan ukiran nama itu sangat jelas terlihat.


You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images