AL for AL
17.18Aku terdiam lama sekali dan terlihat pundak ku mulai naik turun tak bearaturan semakin lama semakin keras. Kini air mataku mulai terburai bersama angan yang selama ini ku impikan. Dan bayangan itu satu persatu mulai berkelebat di benakku. Masih terngiang jelas tawanya yang renyah, bagaimana dia tersenyum dihadapanku. Cara dia memperlakukan ku ketika bersama. “Aaargh, kenapa seperti ini?”,aku berteriak tanpa sadar membuat semua orang panik dan terkejut. “Al, Alfi sudah jangan menangis lagi”,kudengar teriakan lembut ibu,namun kubiarkan ibu terus berdiri dibalik pintu yang enggan aku buka. “Maafkan aku ibu”, kataku lemah. Aku terus menangis, menangis dalam diam.
Beberapa hari yang lalu aku masih
menikmati hari-hari bersamanya. Seseorang yang sangat istimewa bagiku.
Kupandangi hamparan laut yang luas dihadapanku, aku dan dia duduk bersebelahan
diatas pasir. “Al, andaikan nanti kita gak bisa kayak gini lagi gimana?”,
tanyanya memalingkan pandangan ke arahku. “Ih kok tanyanya gitu sih Al”,
jawabku manja. “Emang Tanya aja gak boleh ya Al,kan Cuma seandainya”,katanya
lagi kali ini sambil mengusap lembut pipiku. “Lha emang kamu mau kemana, mau
ninggalin aku?”, jawabku dengan mata membulat. “Enggak Alfi gak bakalan kok aku
ninggalin kamu”,serunya. “Janji ya Al, gak bakalan ninggalin aku”,ku sodorkan
jari kelingkingku. “Iya Alfi sayang”, lanjutnya mengaitkan jari kelingkingnya.
Sedetik kemudian kita terdiam, entah apa yang sedang menari-nari di fikiran
kita masing-masing. Ombak kecil menggulung-gulung dihadapan kita menyapu
sedikit telapak kaki ini, sampai akhirnya “Al”, panggilnya dengan suara yang
amat kecil tapi aku masih mendengarnya. “Iya”, kataku sambil menoleh kuatatap
matanya yang teduh, disana terbentuk segaris senyum yang tipis namun tetap
manis. “Kamu cantik”, katanya tak memalingkan pandangan matanya dari wajahku.
“Alah gombal Al, dari dulu kan emang aku cantik”, kataku sambil nyengir. “Pede
kamu ya”, dia mencubit pipiku. “Haha biarin donk, eh Al kamu kok aneh sih hari
ini?”, tanyaku mulai serius. “Aneh kenapa?”,katanya balik bertanya sambil
jemarinya masih memainkan jemariku. “Aneh aja gak biasanya kamu ngomong kayak
gitu”. Seketika dia menoleh dengan masih tersenyum dia mencolek hidungku yang
mungil. “Aldi di jawab donk kok malah colak colek sih”, aku berteriak kencang
sambil berusaha mengejarnya yang sudah berlari menjauh.
Dan hari itu kulewati sepenuhnya
dengan senyum, canda dan tawa. Waktu seakan berputar lebih cepat dari biasanya
ketika senja mulai datang kita pulang dengan seribu senyum tersungging di
bibir. Namun aku merasakan ada sesuatu yang berbeda terhadap diri Aldi, segera
saja perasaan itu kusingkirkan agar tak merusak indahnya hari ini.
Sulitnya kenangan itu terhapus dari
ingatan. “Aldi”, aku mendesahkan namanya pelan. Kulihat dalam foto senyumnya
yang lebar merangkul badanku yang sama tersenyum disisinya. “Aaargh”, sekali
lagi aku berteriak sambil tanganku dengan terampil merobek-robek foto itu dengan
penuh kebencian. Tak pernah terfikir di benak ku ini semua akan terjadi. Apa yang kulakukan selama ini
salah??, aku bertanya pada
diriku sendiri. Aku mencintainya dengan sepenuh hati dan dia membalasnya. Aku
selalu percaya dengan apa yang dia katakan, meskipun orang-orang diluar sana
bilang bahwa Aldi mempunyai banyak pasangan. Ketika aku menanyakan hal itu, kau
Cuma menjawab “Aku milik mu sayang”, dan aku percaya karena kamu mengatakannya
dengan tulus. Aku selalu mengalah ketika kamu marah kepadaku tanpa alasan.
Mencoba tetap tersenyum ketika kamu melupakan hal-hal yang seharusnya kau
ingat. Bahkan selalu memaafkan ketika kamu lupa akan janji mu. Kulakukan itu
semua karena aku sadar aku harus mencintaimu apa adanya. Aku selalu ingat
bagaimana kamu memperlakukan ku ketika aku sedang menangis. Kamu tidak
menanyakan penyebabnya tapi kamu hanya diam disampingku sambil sesekali
mengusap air yang membasahi pipiku. Dan bila aku mulai terisak kau dekap diriku
erat sampai tangisku berhenti. Aku suka dengan caramu , itu satu hal yang
membuat aku takut kehilangan
mu.
Saat ini ketika aku mulai menangis tak
pernah lagi kau usap air mataku. Tak ada dekapan erat dari dirimu, atau usapan
lembut dikepalaku. Aku menangis bukan karena ada orang yang menyakitiku, bukan
karena ada hal yang membuatku terharu seperti biasanya, tapi aku menangis
karena kamu.
Siang itu ketika aku sedang tertidur
pulas tiba-tiba hp ku berdering. Tanpa nama muncul dilayarnya. Aku juga tak
mengenali nomor siapa itu. Kutekan tombol hijau dan “Halo, ini….” belum sempat
kataku berlanjut. Sebuah kalimat terdengar dari sana bagai pisau yang mampu
menghujam kedalam ulu hati oleh sekali tikaman, hanya tiga kata yang terucap
“Al, Aldi menikah”, mimpikah aku? Aku terdiam beberapa menit untuk bisa
mencerna kata-kata itu. Entah apa yang terjadi selanjutnya semua berubah
menjadi gelap dan hp itu jatuh berantakan.
... To
Be Continued
0 komentar